Rumah... Setiap kali mengingat kata ini atau saat kita membahas tentang ini, selalu terselip sedikit rasa sedih. Aku bohong. Bukan sedikit tapi banyak.
Awalnya aku senang. Segala perabotan baru telah dipesan. Sesuai dengan yang diinginkan. Tapi ketika sadar harus pindah kamar, ada rasa sungkan yang menggelayuti hati. Aku menginginkan kamarku saat ini. Tapi orang tuaku punya keinginan sendiri. Aku turuti.
Padahal, pindahnya ke kamar sebelah. Tiada berjarak, hanya dinding tembok sebagai pemisah. Tapi tetap saja. Aku lebih nyaman berada di sini. Kamar yang telah bertahun-tahun kutempati. Kamarku sendiri!
Bagiku, kamar sebelah bukan kamar kita. Kamar sebelah tetap kamar mama dan ayah. Karena suatu hari, kita akan mengembalikan kunci kamar itu kepada mereka. Karena suatu hari, kita akan pergi dari sana.
Kamarku di rumah orang tuaku. Kamarmu di rumah orang tuamu. Lalu dimana kamar kita? Di sana. Di sebuah rumah yang telah kamu siapkan untukku. Di sebuah rumah yang bahkan hingga saat ini, aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Sebuah rumah yang kamu sebut dengan rumah kita.
Pindah kamar aja hatiku berat banget. Bisa dibayangkan rasanya kalo hari itu datang? Hari dimana kita akan mengembalikan kunci kamar mama dan ayah. Hari saat aku mengunjungi rumah yang sudah bertahun-tahun aku tempati saat ini, aku menyebutnya datang, bukan lagi pulang. Hari...
(aku udah gak sanggup lagi nerusin tulisan ini. Udah dari tadi air mata membasahi pipi. Aku udah duga, berat nulis ini. Aku kira aku akan kuat. Tapi yang gak diduga, aku bisa selemah ini ternyata)
Rumah yang kamu sebut dengan rumah kita.