Thursday, 27 March 2014

From Single to Married

Lama ya gak publish blog. Lamaaa banget. Status aja udah ganti. From single being married. Sebenernya banyak banget cerita yang pengen di-publish. Terlalu banyak malah. Sampe bingung sendiri mau nulis yang mana.

Okelah mulai dari bagaimana awal mula aku bisa menjadi a happy wife kea sekarang aja ya. Lets start!

2013 kuawali dengan perasaan berbunga-bunga karena lagi suka sama seseorang. Beberapa minggu kemudian aku "dipaksa" menerima kenyataan bahwa aku harus move on darinya. Dengan segala kekuatan aku mencoba menghapus rasa suka menjadi biasa aja. Dan berhasil sebelum puasa. Jadi pas Ramadhan 2013 itu hati udah bener-bener bersih lah.

Gak pengen langsung looking for someone. Pengen menata hati dulu. Pengen kasih waktu buat hati untuk "bernapas" sejenak. Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Seminggu setelah lebaran, God sent me someone. Via ami.

Awalnya gak mau respon. Gak mau ngarepin apapun. Biar aja berjalan kea yang Tuhan inginkan. Cuma berdoa: kalo emang dia yang terbaik, dekatkan, mudahkan, lancarkan segala urusan. Tapi kalo emang dia hanya selingan aja, tolong dijauhkan tanpa ada yang tersakiti.

Dan ternyata memang dialah orangnya. Yang kutunggu selama ini. Yang kutanyakan selalu keberadaannya kepada Tuhan. Dia yang bernama Aidimaiyasa.

Cuma seminggu dari awal ami bilang ada yang mau kenal. Lalu dia dateng ke rumah jumpain aku. Lalu orang tua dan keluarganya menjumpai orang tuaku dan juga keluargaku untuk melamar. Iya. Cuma seminggu.

Dan 9 Desember 2013, pukul 10.00, bertempat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, resmi sudah aku berganti status. Dengan sah aku menjadi Mrs. Aidimaiyasa.

Terima kasih Tuhan untuk tahun 2013 yang tak pernah terlupakan. Terima kasih Tuhan untuk 2013 yang penuh jungkir balik. Terima kasih telah menyatukan kami. Terima kasih buat cerita yang sangat indah ini.

Dan terima kasih Tuhan untuk seorang Aidimaiyasa yang teramat sangat indah bagiku. Yang teramat sangat menghargaiku, mencintaiku pun tak pernah merendahkanku. Yang aku sendiri tak tau lagi seperti apa mau mensyukurinya karena telah menjadi suamiku. Yang aku sendiri tak berani mengeluh secuilpun untuk kekurangannya. Karena dia lebih dari yang aku harapkan. Jauh lebih segalanya dari yang pernah aku impikan.

My dearest husband, I love you. More than I love my self.

Sunday, 3 November 2013

Rumah...

Rumah... Setiap kali mengingat kata ini atau saat kita membahas tentang ini, selalu terselip sedikit rasa sedih. Aku bohong. Bukan sedikit tapi banyak.

Awalnya aku senang. Segala perabotan baru telah dipesan. Sesuai dengan yang diinginkan. Tapi ketika sadar harus pindah kamar, ada rasa sungkan yang menggelayuti hati. Aku menginginkan kamarku saat ini. Tapi orang tuaku punya keinginan sendiri. Aku turuti.

Padahal, pindahnya ke kamar sebelah. Tiada berjarak, hanya dinding tembok sebagai pemisah. Tapi tetap saja. Aku lebih nyaman berada di sini. Kamar yang telah bertahun-tahun kutempati. Kamarku sendiri!

Bagiku, kamar sebelah bukan kamar kita. Kamar sebelah tetap kamar mama dan ayah. Karena suatu hari, kita akan mengembalikan kunci kamar itu kepada mereka. Karena suatu hari, kita akan pergi dari sana.

Kamarku di rumah orang tuaku. Kamarmu di rumah orang tuamu. Lalu dimana kamar kita? Di sana. Di sebuah rumah yang telah kamu siapkan untukku. Di sebuah rumah yang bahkan hingga saat ini, aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Sebuah rumah yang kamu sebut dengan rumah kita.

Pindah kamar aja hatiku berat banget. Bisa dibayangkan rasanya kalo hari itu datang? Hari dimana kita akan mengembalikan kunci kamar mama dan ayah. Hari saat aku mengunjungi rumah yang sudah bertahun-tahun aku tempati saat ini, aku menyebutnya datang, bukan lagi pulang. Hari...

(aku udah gak sanggup lagi nerusin tulisan ini. Udah dari tadi air mata membasahi pipi. Aku udah duga, berat nulis ini. Aku kira aku akan kuat. Tapi yang gak diduga, aku bisa selemah ini ternyata)

Rumah yang kamu sebut dengan rumah kita.

Friday, 25 October 2013

Taukah Kamu?

Iya. Aku senang kok dapet kata-kata itu. Seneng banget malah. Kata-kata yang sanggup membuat bibirku melengkung sempurna ke atas. Kata-kata yang sanggup membuat aku susah tidur karena terlalu bahagia. Kata-kata yang sering aku nantikan saat akhir chat kita sesaat sebelum pamit tidur.

Iya. Kata-kata sederhana dari kamu yang itu. Tapi kenapa aku seakan ga peduli? Kenapa aku terkesan cuek? Kenapa aku ga pernah membalasnya? Kenapa dan kenapa?

Taukah kamu bahwa sesungguhnya akupun teramat sangat ingin mengucapkan kata-kata itu sejelas yang kamu ucapkan padaku? Bukan. Bukan untuk menyenangkan atau memuaskan ego kamu. Tapi memang aku mulai merasakannya. Di sini. Di hatiku.

Karena sesungguhnya aku menyimpan kata-kata itu hanya untuk suamiku kelak. Karena bagiku kata-kata itu teramat sangat indah. Dan segala sesuatu yang indah, tidak untuk diobral. Jadi, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan kata-kata itu dariku.

Karena sesuka apapun aku terhadap lelaki bahkan kamu, ga akan aku biarkan kata-kata itu meluncur bebas dengan sukses dari bibirku. Sedapat mungkin aku menahannya. Maka, bersabarlah hingga saat itu tiba. Udah ga lama lagi kan? I am still here. Waiting for the best time to tell you that I love you :))

Tuesday, 22 October 2013

Nite Too, Honey

211013 kemarin, kamu bilang "nite too honey" sebagai balasan ucapan "nite" dari aku. Itu aja udah bikin aku bahagia. Itu pertama kalinya kamu panggil aku dengan sebutan itu. Meskipun aku balas lagi dengan "ini mikir brapa lama sebelom dikirim?". Jahat banget yaa aku :">

Dan malam ini, aku coba beranikan diri bilang "good nite sweetheart" tapi malah kamu bales pake "maksudnya?" hah! Udah ngumpulin keberanian malah dibalas begitu. Hih! Eh kalo dipikir-pikir, jadi imbang yaa ama ledekan aku kemaren hehehe.

Tapiiiii... Tapiiiiii rasa kesalnya itu jadi ga berarti. Langsung terganti dengan perasaan berbunga-bunga. Dan melting juga saat kamu nulis "makin sayang adek abg :)". Awalnya bingung sih. Maksudnya apa yaa? Pas aku baca ulang dan ngerti maksudnya, ah perasaan bahagia itu ga bisa ditahan lama :">

Dan yang paling aku syukuri saat ini yaitu saat Tuhan menumbuhkan rasa itu di dalam hati. Aku sangat menikmati setiap prosesnya. Ketika dulu ga peduli dan ga mau tau. Tapi sekarang, kamu itu udah seperti candu.

Terima kasih Tuhan atas seseorang ini dan rasa yang mulai tumbuh di hati. Semoga bisa saling melengkapi dan membahagiakan. Terima kasih kamu yang telah begitu baik padaku. Semoga terus begitu. Lebih baik lagi kalo kita bisa lebih dari itu :))

Friday, 11 October 2013

Write OWV

Jadi aku baru aja siap nulis ini. OWV. Sebenernya udah dari kemaren itu mau nulis. Sengaja nunggu hari ini. Kenapa? Karena 11 Oktober 2013 itu hari pertama kalinya yang bikin aku shock to the max sebulanan yang lalu. Mau dijadiin hari besar dalam hidup kami juga tapi ga jadi karena sesuatu dan lain hal.

Sengaja juga nulisnya di blog, bukan twitter. Biar ga ada yang tau. Jadi ini nulisnya kea mau bikin arsip buat diri sendiri aja. Buat dibaca dan dikenang suatu hari nanti. Bukan untuk konsumsi publik.

Kalopun ada yang mampir dan baca tulisan ini dan berakhir penasaran ama beberapa kata di atas, tunggu aja posting laennya. Kalo ga akhir 2013, Insya Allah awal 2014 nanti bakalan aku kasih tau. Biar kaget kea yang aku rasain. Juga heboh :p

Hokeh. Cukup sekian dan ini aku kasih foto hasil karya aku malam ini. Dang sengaja di blur. Iya sengaja :))

Friday, 26 July 2013

My Nap's Dream

Mimpi barusan itu seru abis. Banget bangetlah pokoknya. Mimpi aja terus yaa. Hahahahaa. Lets tell.

Jadi aku mimpi punya cowo yang bisa dibilang almost perfect. Orangnya mirip banget sama Stuart Collin. Direktur sebuah perusahaan. Masih muda. And especially love me so much.

Aku? Masih suka malu-malu kalo diledekin anak buahnya. Bukan aku banget yaa. Hahahaa. Eits jangan bayangin kantornya itu perusahaan gede gitu. Nope! Bangunan 2 lantai. Ruangannya pribadinya di lantai 2 tapi dia lebih sering gabung sama bawahannya di lantai 1. I love his low profile :)))

Aku gatau posisi aku di situ apaan. Yang pasti bukan posisi penting. Cuma anak bawang gitu. Aku deket sama sekelompok orang dalam sebuah difisi (keren banget bahasanya :p) seorang cewek dan beberapa cowok buat diajak becanda. Homey banget pokoknya.

Jadi hari itu jumat (kea hari ini yaa xD) si cowo aku itu yang malah ga aku tau siapa namanya (parah), udah balek duluan sejak shalat jumat. Ga masok kantor lagi karena ada keperluan di luar. Tapi janji ntar sore mau jemput aku balek ke rumah. Aduduh perhatiaan banget abang ini. Meleleh :'))

Pas sore, mau balek gitu ternyata udah duluan ada sebuah pesan dari dia "where are you? I am corious". Sambil senyum aku mau bales smsnya. Dan tepat saat itu hape aku mati total. Liat hape satu lagi, emang udah mati dari tadi. Gimana dong nih? Mana sesak pipis lagi. Pesannya itu pasti udah ada di hape dari tadi.

Ga ada pilihan laen, balek masok kantor trus nitipin tas ama hape ke temen cewe, baru deh ke toilet. Taunya ditungguin sama temen aku itu, tiba-tiba dia nanya "kalo si bos tau kejelekan kamu gimana?" dan dengan santai aku jawab "biar aja. Dia harus bisa terima aku sepaket ama kekurangan aku. Bukan cuma lebihnya doang. Aku cuma manusia biasa" sambil jalan kembali ke dalam.

Baru masok ruangan, aku udah liat cowo aku (ciiiee... Yaelah bro) lagi ngobrol di sisi ruangan sana. Aku langsung ke meja si cewe. Eh hape aku lagi di-charge. Tau-tau udah ada dia di belakang aku dan bilang "bagus yaa... Hape dua-duanya ga bisa dihubungi. Bikin khawatir. Kemana aja?" dengan tatapan mata tajamnya. Ngeri bok.

Aku jawab "maaf... Barusan dari toilet. Hapenya emang mati" dan temen aku itu bantuin jawab "barusan di charge bos..." dan orang yang tadi ngobrol sama dia ngajak ngobrol lagi. Aku perhatiin dia dari belakang. Tinggi banget sih kamu. Kataku dalam hati. Masih pake baju koko putih ama sarung. Keanya emang belom sempat pulang ke rumah abis jumatan tadi. Sibuk banget. Tapi masih sempet buat jemput aku. Khawatirin aku. I feel my heart was warming :3

Siap memandangi punggungnya, aku liat hape aku lagi dipegang sama cowo yang masih satu kubikel ama temen aku. Iseng aku bilang "ada yang ngetawain foto aku nih" suara kecil, ga niat laporin sama yang di sebelah. Si temen cowo malah selow buka yang laen lagi. Trus temen aku yang cewe dengan suara gede bilang "bos... Liat tuh" lalu si bos balek badan, liatin pake tatapan matanya yang tajam ke arah cowo itu pegang hape aku. Langsung deh mukanya pucet dan meledaklah tawa kami semua.

Dan abis ketawa, aku kebangun. Mimpi pas lagi demam pula. Hahahahaa. Tapi romantis juga mimpi aku barusan. Aaaakkk... Pengen jadi kenyataan. Punya cowo yang sayang banget sama aku gitu. Trus ibadahnya bagus. Perhatian. Khawatir kalo ga bisa dihubungi. Dan aku juga sayang banget sama dia. Dan aku dapet banyak bonus lagi, mapan dan tampan :3

Friday, 12 July 2013

Aloneness Buka Puasa

Yes. Aloneness. But not loneliness. I dont feel pathetic. Dont feel anything. Instead in a part of my mind want this situation.

Truly alone. No my parent. No my brothers. No kanji as the most have takjil in my home. Every year. Everyday except today.

Before my mom go, she has prepared for the menu to me. She fried risoles. And I saw in freezer, there is a bowl of timun iced. They served me. Seriously.

They let me go to bukber with my friends. So why I dont let them go to bukber with the others? Even though, I am aloneness in this home. I dont mind.

But I think I wanna bukber in my bestfriend's home. My neighbor. It os sounds good. I'll bring my takjil. I dunno.

I wanna bukber in this aloneness. I wanna bukber with my best friend's home. Aloneness. Togetherness. Aloneness. Togetherneas. I am confusseeeeddd.

A minute ago my cousin gives me kanji rumbi. No. It is not same with kanji daun is like my mom cook, but it is okay. I am so grateful with menu today. Alhamdulillaaah :)))

So... This is my takjil today. Yummy and deliciouuusss. How could be I feel pathetic, besides Allah love me and gives me this much? :)))